Revolusi Mesir, 25 Januari 2011, sungguh mengubah nasib seorang pria sederhana, Muhammad Mursi. Komisi Pemilihan Umum, Minggu (24/6), menetapkannya sebagai presiden pertama Mesir pasca-revolusi. Padahal, awal tahun lalu, tepatnya 28 Januari 2011, Mursi masih menjadi tahanan yang mendekam di sebuah penjara di dekat kota Kairo.
Jalan menuju istana presiden pun, bagi Mursi, seperti hanya kebetulan saja. Dia memang tidak dipersiapkan oleh Ikhwanul Muslimin (IM), organisasi tempat Mursi mengabdi hampir sepanjang hidupnya.
IM tiba-tiba menunjuk Mursi sebagai kandidat presiden cadangan setelah kandidat resmi IM, Khairat al Shatir. IM saat itu berdalih, Mursi dijadikan cadangan karena khawatir Khairat al Shatir mendapat hambatan hukum dalam proses pencalonan presiden. Kekhawatiran IM itu menjadi kenyataan. Al Shatir didiskualifikasi KPU, dan Mursi pun menjadi kandidat resmi dari IM.
Sebagai pemain cadangan, Mursi tak luput dari kritikan pedas atau ledekan dari berbagai pihak, terutama melalui jejaring sosial. Lawan-lawan politiknya menyebut, pencalonan Mursi menunjukkan bahwa IM ambisius untuk menguasai semua lini kekuasaan di Mesir—mulai legislatif, yudikatif, hingga eksekutif—dengan memaksakan mengajukan calon dari dalam organisasi, tanpa melihat lagi kualitas sang calon itu.
Namun, Mursi menolak tudingan hanya menjadi kandidat cadangan. Menurut Mursi, pengajuan dirinya sebagai calon presiden menunjukkan bahwa terjadi dinamika yang tinggi dalam organisasi IM. IM bukanlah organisasi yang tergantung pada sosok seorang tokoh, tetapi institusi dengan mesin organisasi yang mapan.
IM mengklaim mengusung proyek kebangkitan nasional dalam semua bidang, untuk membawa Mesir lebih maju di masa mendatang. Sosok Mursi diunggulkan sebagai tokoh representatif untuk mengusung proyek tersebut. Dia dijagokan sebagai tokoh yang bisa mewujudkan impian rakyat Mesir, yakni membawa Mesir ke pelabuhan aman.
Muhammad Mursi lahir pada 20 Agustus 1951 di Desa Al Adawa, Provinsi Al Syarqiya, Mesir bagian timur, dari keluarga sangat sederhana. Ayahnya hanyalah seorang petani dan ibunya sebagai ibu rumah tangga.
Pada masa kekuasaan Mubarak, gerak-gerik Mursi dipantau dan dibatasi sedemikian rupa, bahkan menyebabkannya masuk dalam tahanan. Penjara pun menjadi tempat yang tak asing baginya. Contohnya setahun setelah gagal mempertahankan kursi parlemen tahun 2005—kalah dalam pemilu putaran kedua dari kandidat Partai Nasional Demokrat (NDP) yang berkuasa—Mursi pun masuk penjara.
Mursi ditangkap di depan gedung pengadilan kota Kairo ketika ikut berunjuk rasa. Demonstran memprotes dinonaktifkannya dua hakim, yaitu Mahmud Miki dan Hisyam al Bastawisi, karena dua hakim itu menolak aksi manipulasi pada pemilu parlemen tahun 2005.
Saat itu Mursi ditangkap bersama 500 aktivis IM lainnya. Setelah mendekam di penjara selama tujuh bulan, Mursi dibebaskan, tetapi dikenai tahanan rumah.
Selama lebih dari setahun, Mursi sukses memimpin FJP untuk meraih suara mayoritas—47 persen—pada pemilu parlemen akhir tahun lalu dan awal tahun ini.
Setelah menjadi orang nomor satu di Mesir, Mursi mengundurkan diri dari jabatan ketua FJP untuk beralih menjadi pemimpin untuk semua rakyat Mesir, bukan golongan atau kelompok tertentu.
Mursi dalam pidato politiknya sebagai presiden Mesir, Minggu malam lalu, dinilai banyak orang cukup gemilang karena mampu menunjukkan sebagai negarawan. Ia menegaskan bahwa dirinya sebagai presiden untuk semua rakyat Mesir tanpa kecuali dan akan menjamin semua hak rakyat Mesir, khususnya kaum wanita dan kelompok minoritas Kristen Koptik.
sumber : kompas , 27 juni 2012
Thursday, November 20, 2014
Thursday, November 13, 2014
Melayani Nasabah Kelas Bawah
"Melayani Nasabah Kelas Bawah"Kamis,13 November 2014
Antonius Sumarwan SJ
♦ Lahir: Sintang, 28 Maret 1977
♦ Pendidikan:
- Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (1998-2002)
- Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma (2004-2007)
- Pascasarjana Manajemen Universitas Gunadarma (2011-2013)
♦ Karya: Buku ”Menyeberangi Sungai Air Mata”
Berawal dari keprihatinannya kepada pedagang di gereja tempatnya bertugas, jadi pada waktu itu Sumarwan melihat renternir yang rutin datang untuk menagih angsuran dengan bunga yang tinggi.
Padahal waktu itu di tempatnya ada credit union (CU) atau koperasi kredit bernama Bererod Gratia. Saat itu, untuk menjadi anggota dan kemudian bisa meminjam uang, seseorang mesti menabung setidaknya Rp 2,3 juta.
suatu kali, Sumarwan membaca buku Muhammad Yunus, judulnya Bank Kaum Miskin yang menceritakan pengalaman Muhammad Yunus sampai kemudian mendirikan Grameen Bank. Itulah inspirasi awal berdirinya CUMI.
Credit Union Microfinance Innovation Pelita Sejahtera (CUMI PS) Bermodal tabungan pribadi Rp 2,5 juta, kredit mikro pun mulai dikucurkan dengan mengadopsi konsep Grameen Bank atau Bank Desa pada 2008.
Kala itu, pinjaman pertama diberikan kepada anggota tanpa harus menyetor tabungan. Sasarannya adalah warga miskin yang sudah mempunyai usaha kecil atau ingin memiliki usaha kecil, terutama perempuan.
Saat itu, sistem yang dipakai adalah tanggung renteng lima anggota dalam satu kelompok. Apabila seseorang mengalami kredit macet, anggota yang lain harus membantu.Perlahan, anggota proyek CUMI bertambah karena promosi dari mulut ke mulut.
Perkembangan CUMI tidaklah mulus. Calon anggota enggan bergabung karena proses masuknya dianggap rumit. Tapi proses itu dimaksudkan agar tidak terjadi kredit macet didalam tiap perkelompok.
program CUMI diresmikan dengan nama CUMI Pelita Sejahtera. Kini, pinjaman diberikan bukan hanya untuk modal usaha, melainkan juga untuk pendidikan dan perumahan. Sebagian besar anggota telah memetik buah kerja kerasnya.
Bagi Sumarwan, CUMI PS masih kecil. Namun, dia berharap gerakan kecil ini dapat jadi pelita dan membawa terang kesejahteraan bagi anggotanya.
Thursday, November 6, 2014
Berbagi ala ”Preman Super”
HIDUP menjadi berarti ketika bermanfaat bagi orang lain. Menjadi bermanfaat itu tidak selalu terkait dengan urusan materi, apalagi finansial. Membantu orang lain agar berdaya dan ternyata memang berdaya adalah hal yang membawa arti dalam hidup.
Hal itulah yang dilakukan Peny Budi Astuti (45), ibu rumah tangga asal Plaosan Timur Gang Lori, Kota Malang, Jawa Timur. Peny adalah ibu rumah tangga, pekerja rumahan, yang dengan ilmu dan pengalamannya kini mengoordinasi 300-an perempuan rumah tangga dan pekerja informal untuk berdaya dan mandiri. Sekitar 50 persen dari perempuan tersebut berasal dari keluarga prasejahtera. Peny bersama ratusan perempuan tersebut bergabung dalam komunitas ”Preman Super”, yaitu Perempuan Mandiri Sumber Perubahan. Mereka terdiri dari pemulung, pembuat kue, dan ibu rumah tangga biasa.
Kelompok Preman Super rutin memberikan pelatihan kepada anggotanya, minimal sebulan sekali, di antaranya pelatihan kerajinan dari manik-manik, menjahit, membatik, membuat sulam pita, dan membuat sandal. Komunitas Preman Super dibentuk per kelompok. Tiap-tiap kelompok terdiri atas 5-10 orang. Setiap kelompok berhak mendapatkan pinjaman modal usaha yang dikembalikan dengan sistem tanggung jawab bersama.
Kini, komunitas Preman Super sudah memiliki koperasi sendiri. Di sinilah semua anggota bisa berharap mendapatkan modal usaha. Dana koperasi didapat dari iuran anggota dan hibah ataupun bantuan berbagai pihak, termasuk sejumlah perbankan yang menggandeng Preman Super.
”Dengan memiliki koperasi sendiri, anggota tidak perlu bingung mencari modal usaha. Kini, ibu-ibu bisa mengembangkan usahanya tanpa takut terkendala modal,” ujar Peny.
Subscribe to:
Comments (Atom)
